Catatan Diskusi

Laporan diskusi publik dan diskusi terbatas yang diselenggarakan Forum Muda Paramadina.

Workshop Menulis Efektif: Show Don't Tell

Menulis Efektif: Show Don’t Tell

 

Dalam rangka meningkatkan kemampuan menulis, Forum Muda Paramadina menyelenggarakan workshop singkat bertema “menulis efektif” pada Jumat, 22 Agustus 2014 di kantor PUSAD Paramadina. Fasilitator workshop ini adalah Husni Mubarok, manajer program PUSAD Paramadina.

Kegiatan dimulai dengan penyampaian materi mengenai menulis kreatif yang didapatkan dalam Lokakarya Komunikasi Knowledge Sector Initiative (KSI) bulan Juni lalu. Fasilitator menjelaskan bagaimana menulis kreatif menurut Yanuar Nugroho, peneliti dan pengajar di Univeristy of Manchester, Inggris. Hal utama yang harus diperhatikan dalam menulis efektif adalah bagaimana pembaca bisa dengan mudah mengerti isi tulisan. Dalam menulis efektif, penulis harus lebih banyak menunjukkan gagasan, bukan bertele-tele dengan kata sifat (show don’t tell).

Langkah-langkah dalam menulis efektif antara lain meliputi perencanaan, penulisan draft, revisi isi, pengeditan tata bahasa dan tanda baca, serta pengaturan format tulisan. Dalam merencanakan tulisan, penulis harus mengetahui siapa target tulisan dan apa yang ingin disampaikan sehingga setiap kalimat mempunyai tujuan dan relevan untuk pembaca. Di tahap penulisan draft/naskah, penulis mulai menuangkan idenya dalam kertas tanpa memperhatikan tata bahasa atau ejaan terlebih dulu. Hal yang penting dalam tahap ini adalah mencatat apa saja yang ada di kepala. Kita bisa menggunakan buku catatan atau rekaman untuk mendokumentasikan ide kita kapan saja.

Tahap selanjutnya adalah melakukan revisi dari draft yang kita tulis. Revisi ini misalnya bisa dilakukan dengan mengubah kalimat dan kata agar lebih mudah dipahami serta menghindari salah paham. Dalam tahap ini penulis mesti menjadi musuh terbesarnya sendiri (be your own worst enemy) sehingga penulis benar-benar merevisi tulisan sebaik mungkin. Setelah melakukan revisi, penulis harus melakukan penyuntingan dengan mengecek kembali tata bahasa, pengejaan, serta tanda baca. Tahap terakhir adalah mengecek format tulisan, baik dari segi jenis huruf yang digunakan, margin, dan sebagainya.

Setelah menyampaikan materi, fasilitator memberi tugas peserta untuk menulis opini sebanyak 5 paragraf dalam waktu 30 menit. Setelah 30 menit, semua peserta membedah setiap tulisan bersama-sama tanpa mengetahui identitas penulis. Peserta menunjukkan antusiasmenya dalam mengoreksi tulisan serta memberikan kritik yang membangun. Setelah semua tulisan dikoreksi, identitas penulis baru diberitahukan.

Workshop ini sangat bermanfaat karena memberikan kesempatan dan pengetahuan kepada peserta untuk melatih diri, sekaligus mendapatkan respon atas tulisannya. Tulisan-tulisan peserta yang dihasilkan dalam workshop ini juga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk dipublikasikan di berbagai media.[]

 

Studying English Documentaries and Pluralism: Mohamed Ali: Kaum Muda, Pengangguran, dan Terorisme

http://www.ted.com/talks/mohamed_ali_the_link_between_unemployment_and_terrorism

Alkisah ada seorang pengangguran muda asal Mogadishu yang direkrut al-Shabaab, kelompok teroris Somalia yang berjejaring dengan al-Qaeda. Ia kemudian menceritakan kisahnya melepaskan diri dari jeratan kemiskinan dan rekrutmen teroris. Orang yang berperan besar dalam proses terebut tak lain adalah pengusaha muda bernama Aden, pemilik usaha penyewaan motor dan Mohamed Mohamoud, pemilik toko bunga.

Kisah tersebut disampaikan Mohamed Ali dalam TEDTalk yang didiskusikan dalam Studying English Documentaries and Pluralism pada Senin, 25 Agustus 2014 di kantor PUSAD Paramadina. Mohamed Ali adalah aktivis HAM dan direktur Iftin Foundation, organisasi yang mendirikan dan mendukung wirausahawan muda untuk mendorong perubahan dan inovasi di Somalia dan negara pasca konflik lainnya.

Bagi Ali, persoalan kaum muda dan pengangguran berkaitan erat dengan terorisme. Ia menceritakan perjuangannya di Mogadishu dalam membuat inovasi usaha bersama para pemuda di sana. Melalui upaya ini, Ali mencegah anak-anak muda dari perekrutan kelompok teroris dan organisasi kekerasan lain.

Menurut pengalamannya, budaya kewirausahaan sangat penting untuk mengurangi pengangguran serta memotong rekrutmen kelompok teroris. Karena itu yang perlu dilakukan adalah menghubungkan para pemuda dengan etos kewirausahaan, termasuk modal dan bimbingan ahli. Ketika para pemuda ini berhasil mewujudkan idenya, mereka akan mendorong perubahan yang lebih luas.

Peserta menanggapi pemaparan di atas dengan mendiskusikan apakah ada hubungan langsung antara fundamentalisme dan pengangguran. Seorang peserta menyatakan ada hubungan antara fundamentalisme dan pengangguran. Para pemuda yang menganggur ini memerlukan “iming-iming” untuk bisa direkrut. Dalam kasus yang disampaikan Ali, kelompok teroris tahu betul bahwa para penganggur ini sangat lemah dari segi ekonomi dan mereka memanfaatkan hal ini.

Peserta lain berpendapat bahwa orang yang menganggur tidak serta merta akan menjadi fundamentalis, perlu ada penghubung, dan dalam hal ini adalah rekrutmen. Karena itu yang perlu diwaspadai adalah rekrutmen kelompok teroris. Ia mendukung upaya Ali untuk memperkenalkan kewirausahaan kepada anak muda untuk mengurangi pengangguran  dan risiko rekrutmen kelompok kekerasan.

Diskusi ini menarik karena mencoba melihat sisi lain dari terorisme dan fundamentalisme, yaitu fenomena pengangguran. Hubungan kausal antara faktor-faktor tersebut masih harus dibuktikan tetapi ide tentang kewirausahaan sebagai pemberdayaan anak muda penting untuk dilakukan.[]

 

Studying English Documentaries and Pluralism: Anti - Kekerasan Tanpa Kekerasan

Gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) belakangan ini menjadi sorotan setelah sejumlah aksi kekerasan yang dilakukannya. NIIS mendapatkan banyak pendukungnya di Indonesia, tapi tak sedikit juga yang menentangnya. Isu ini muncul dalam diskusi Studying English Documentaries about Pluralism (SEDAP), Senin (11/08), yang kali ini membahas video berjudul “When People of Muslim Heritage Challenge Fundamentalism” dengan pembicara Karima Bennoune.

Link Video : Karima Bennoune - When people of Muslim heritage challenge fundamentalism

Dalam 20 menit, Karima Bennoune memaparkan pengalamannya menghadapi fundamentalisme yang mengancam nyawanya dan keluarganya di Aljazair. Ayah Karima dianggap mengajarkan biologisme karena mengajarkan teori Darwin. Meskipun keluarganya selamat, banyak keluarga lain yang tidak beruntung di Aljazair ketika itu. Karima, tergerak dari pengalamannya itu, melakukan penelitian di 30 negara untuk mengetahui bagaimana orang-orang melawan kekerasan berbasis fundamentalisme tanpa kekerasan.

Alih-alih mempertahankan tradisi Islam, fundamentalisme bagi Karima justru mengubah hubungan orang-orang dengan Islam. Karima juga menyayangkan sejumlah kalangan di Barat yang cenderung melihat Islam sebagai agama kekerasan. Karima menunjukkan contoh-contoh bahwa Islam fundamentalis adalah posisi keliru yang bisa ditantang tanpa perlu melakukan kekerasan terhadap mereka. Ia menyimpulkan bahwa setiap orang bisa berperan melawan fundamentalisme dengan menyatakan dukungan mereka di komunitas masing-masing untuk melawan fundamentalisme itu.

Diskusi SEDAP berlangsung dengan cukup intensif. Salah satu peserta menyebutkan pentingnya untuk tidak tunduk terhadap kekerasan akibat fundamentalisme, sesuai yang dikatakan Karima. Diskusi kemudian berlanjut untuk membahas bagaimana seseorang bisa meninggalkan fundamentalisme yang mendorong kekerasan. Salah satu peserta melihat bahwa sejak berpartisipasi dalam pendidikan di Perguruan Tinggi, temannya berubah dari yang sebelumnya amat fundamentalis menjadi anti fundamentalis. Peserta lainnya memaparkan kasus dimana kita bisa menggunakan pendekatan non-konfrontatif dalam menghadapi seseorang yang menganut fundamentalisme.

Banyak peserta sepakat bahwa kunci untuk mengurangi fundamentalisme seseorang adalah dengan membuat orang itu menghadapi disonansi kognitif. Disonansi kognitif adalah kesenjangan antara keyakinan atau pengalaman seseorang dengan kenyataan yang sebenarnya. Salah seorang peserta kemudian memaparkan teori psikologi komunitas yang menekankan bahwa strategi menghadapi fundamentalisme bisa dibentuk menyesuaikan dengan kelompok usia. Misalnya saja strategi menghadapi fundamentalisme untuk remaja bisa berbeda dengan strategi untuk mahasiswa.

 

By: Joevarian

The Physician: Pertemuan Dunia Arab dan Eropa melalui Ilmu Kedokteran

NobarPisa bulan Juli 2014 dilaksanakan pada Jumat, 18 Juli 2014 di Pisa Cafe, Mahakam, Jakarta Selatan. Film yang ditayangkan berjudul “The Physician”. Film karya Philipp Stölzl ini berdurasi 150 menit dan mengambil latar waktu abad ketujuh atau kedelapan ketika segmentasi dan sentimen beragama mulai terbentuk.

"The Physician" menceritakan perjalanan seorang berkebangsaan Inggris dan beragama Kristen yang bernama Rob Cole. Semenjak kematian ibunya karena penyakit usus buntu, ia memutuskan untuk mendalami ilmu medis yang pada masa itu dikenal dengan ilmu fisika. Ia mengawali karirnya dengan membantu dan berguru pada seorang ahli obat jalanan yang buta. Suatu ketika, seorang ahli medis datang ke kota itu dan berhasil membuat gurunya bisa melihat. Kagum sekaligus keheranan, ia bertanya pada sang ahli medis dimana ia belajar. Ternyata sang ahli medis memperoleh ilmu dari ahli fisika Ibn Sina di persia, sebuah negara jauh di timur London. Meskipun sudah diingatkan akan bahaya yang dihadapi untuk masuk ke daerah tersebut – termasuk peringatan akan kelompok agama di negara tersebut – Rob tetap nekat berangkat menuju Persia.

Read more...

Persahabatan Unik Ibu Korban dan “Pelaku” 9/11

Benarkah perempuan merupakan pembawa damai yang lebih potensial dibanding laki-laki? Kisah persahabatan unik antara dua ibu yang dipertemukan melalui kondisi yang tidak mengenakkan ini mungkin bisa menjadi bahan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Phyllis Rodriguez, ibu dari korban 9/11, memutuskan untuk bersahabat dengan Aicha el-Wafi, ibu dari tersangka pengeboman 9/11. Keduanya dengan bangga menunjukkan persahabatannya ini dalam pidato di TedTalk tahun 2010 berikut ini: 

Tema ini diangkat dalam diskusi Studying English Documentaries and Pluralism (SEDAP) pada Senin, 14 Juli 2014 di kantor Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, Bona Indah Plaza, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Selain meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, diskusi ini ditujukan untuk memperkaya pengetahuan seputar pluralisme. Tema video ini sangat relevan dengan tujuan tersebut.

Read more...

Agama dan Bina-Damai: Upaya Memperluas Spektrum

Suasana diskusi panel “Agama dan Perdamaian” di PUSAD Paramadina, Selasa, 8 Juli 2014.
Agama sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di banyak kasus, agama dianggap memicu konflik kekerasan. Tapi di kasus lain, agama juga berperan mendorong perdamaian. Tidak seperti perannya dalam memicu konflik, peran agama dalam mendorong resolusi konflik dan bina damai memang belum banyak dikaji. Karena itu ketika ada dua peneliti muda yang mengkaji hubungan agama dan perdamaian, PUSAD Paramadina menyambut baik dan mengundang mereka untuk sharing hasil penelitiannya. Mereka adalah Utami Sandyarani dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan Nabila Sabban, alumni University of Bradford, UK. Diskusi diselenggarakan pada Selasa (8/7) di kantor PUSAD Paramadina.
Read more...

Syariah dalam Politik Indonesia: Diskusi dengan Katrin Jomaa

Fakta bahwa Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbanyak sangat menarik banyak peneliti untuk melihat dinamika Islam dan negara. Hal ini pula yang menarik Katrin Jomaa, Ph.D, peneliti asal Lebanon, untuk melakukan penelitian terfokus pada aplikasi syariah dalam politik Indonesia.

Katrin Jomaa, Ph.D adalah asisten profesor di University of Rodhe Island. Melalui kerjasama dengan Universitas Paramadina, Katrin melakukan penelitian selama 10 minggu di Indonesia untuk melihat bagaimana syariah dalam dunia politik Indonesia. Selain melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh partai dan Islam di Indonesia, Katrin juga akan mengunjungi Aceh sebagai satu-satuya provinsi yang menerapkan hukum syariah.  

Read more...

Noah Feldman: Agama dan Politik sebagai Teknologi

Peserta Diskusi menyimak pidato Noah Feldman (25/06)

Agama dan politik seringkali dilihat sebagai dua hal yang saling bertentangan. Namun Noah Feldman, profesor hukum internasional di Harvard, memberikan sebuah hipotesis yang menarik bahwa agama, dalam hal ini Islam, dan politik, dalam hal ini demokrasi, adalah sebuah teknologi yang sama. Keduanya menjadi teknologi untuk dapat mengontrol dan membagikan kekuasaan sehingga keduanya mempunyai kekuatan untuk mengumpulkan dan mengontrol masyarakat. Ceramah Feldman dalam TedTalk 2003 ini menarik untuk dilihat dan diperhatikan sesuai dengan konteks tahun 2003 dimana Amerika Serikat sedang melakukan invasi ke Irak dalam rangka war on terror.

Hipotesis Feldman ini diangkat menjadi bahan diskusi dalam SEDAP (Studying English Documentaries on Pluralism), Rabu, 25 Juni 2014 pukul 14:30-18:30 WIB. Acara yang dihadiri oleh 8 orang, termasuk 3 pemagang yang baru saja bergabung, di kantor Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, Bona Indah Plaza, Lebak Bulus, Jakarta Selatan ini membahas ceramah Noah Feldman: Politics and Religion are Technologies yang bisa dilihat di tautan ini.  

Read more...

The Two Escobars: Titik Temu Sepakbola dan Politik

Piala Dunia 2014 sedang berlangsung dan disambut gegap gempita masyarakat dunia. Antusiasme masyarakat terhadap sepakbola membuktikan bahwa menjadi olahraga yang tidak pernah habis untuk dibicarakan. Akan tetapi ada banyak hal yang ada dibelakang sepakbola itu sendiri, mulai dari bisnis, politik hingga permainan pajak yang seolah tidak terlihat namun menjadi gejala umum dalam sepakbola dimanapun itu. Titik temu sepakbola dan politik ini disajikan secara menarik dalam film dokumenter yang diputar dalam kegiatan pemutaran dan diskusi film Nobar Pisa bulan Juni, “The Two Escobars”.  

Read more...

Catatan Diskusi Terbaru

Catatan Diskusi Lainnya