Catatan Diskusi

Laporan diskusi publik dan diskusi terbatas yang diselenggarakan Forum Muda Paramadina.

Gerakan Perdamaian dan Nir-Kekerasan di Israel-Palestina

Encounter Point tidak hanya bercerita tentang perasaan para korban konflik kekerasan di Israel-Palestina. Encounter Point juga bercerita tentang gerakan perdamaian dan nir-kekerasan yang diinisiasi oleh para korban. Mereka adalah “orang-orang biasa”. Para penduduk Israel dan Palestina yang menginginkan perdamaian, melawan dengan cara nir-kekerasan.  

Jumat, 17 Januari 2014, Forum Muda Paramadina (FMP) mengadakan pemutaran dan diskusi film Encounter Point. Film dokumenter berdurasi 1 jam 28 menit ini disutradarai oleh Ronit Avni dan Julia Bacha. Mereka adalah sutradara yang senang menyorot sisi perdamaian dan perlawanan nir-kekerasan di Israel-Palestina. Belakangan, mereka juga terlibat dalam pembuatan film dokumenter perlawanan nir-kekerasan di Palestina, yaitu Budrus (2009).

Acara pemutaran dan diskusi film diadakan di Pisa Cafe Mahakam, Blok M, Jakarta Selatan. Sekitar lima puluhan peserta menghadiri acara ini. Pakar Resolusi Konflik dan Perdamaian dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Samsu Rizal Panggabean menjadi narasumber diskusi.

Melalui Encounter Point, Ronit Avni dan Julia Bacha mengenalkan para korban yang bergabung dalam gerakan perdamaian dan perlawanan nir-kekerasan. Mereka adalah Ali Abu Awwad, orang Palestina yang pernah mendekam di penjara Israel dan saudaranya dibunuh oleh tentara Israel; Robi Damelin, orang Israel yang anaknya menjadi tentara Israel dan ditembak mati oleh gerilyawan Palestina; Sami Aljundi, militan dari Palestina.

Samsu Rizal Panggabean menunjukan contoh lain tentang perlawanan dan pembangkangan sipil yang pernah dilakukan oleh orang Israel. Tindakan tersebut dilakukan oleh Ilana Herman, perempuan yang mengajak tiga remaja Palestina untuk main ke laut di wilyah Israel. Ilana sempat diancam pidana, namun tindakannya justru mendapatkan dukungan dari pelbagai pihak. Bahkan, para simpatisan Ilana ikut menyelundupkan para wanita Palestina untuk main ke laut Israel.

“Akibat tindakan Ilana, pada hari raya Idul Fitri 2012, untuk pertama kalinya pemerintah Israel mengalah. Sebanyak 130.000 warga Palestina di Tepi Barat diizinkan untuk masuk Israel dan tumpah ruah ke laut. Tahun 2013 terjadi lagi, dengan jumlah lebih banyak,” kata Samsu Rizal Panggabean.

Samsu Rizal Panggabean juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut tidak bisa dilepaskan dari Jenderal Nitzan Alon. “Pada 2012, dia telah melonggarkan izin menyeberang ke Israel karena dia menilai kekerasan menurun dan suasana membaik di Tepi Barat. Masyarakat Palestina, katanya, harus diberi perspektif baru tentang masyarakat Israel, dengan memudahkan mereka berkunjung, ” kata dosen UGM itu.

Selain menunjukan gerakan perlawanan nir-kekerasan di Israel-Palestina, Samsu Rizal Panggabean bertanya kepada peserta tentang apa yang dirasakan dan dipikirkan sesudah melihat film Encounter Point.

Salah satu peserta, Siti Fadilah mengatakan bahwa dirinya terkejut melihat orang Israel dan Palestina bisa melawan bersama-sama dengan cara-cara nir-kekerasan. Peserta lain, Elza Peldi Taher mengatakan bahwa orang-orang yang menjadi korban kemudian bersatu dan melawan tanpa kekerasan adalah orang yang memiliki sifat kenabian. Karena hal itu sangat susah dilakukan bagi individu yang sudah menjadi korban.

Menurut Samsu Rizal Panggabean, Encounter Point menunjukan kepada kita bahwa perlawanan nir-kekerasan lebih efektif dari cara-cara kekerasan. Samsu Rizal Panggabean yang biasa meneliti konflik, juga menunjukan bukti lain terkait keberhasilan perlawanan nir-kekerasan dengan mengutip hasil penelitian Erica Chenoweth.

“Dalam buku Why Civil Resistance Work, Erica Chenoweth mengumpulkan seluruh bentuk perlawanan yang ada di setiap negara. Salah satu temuan buku itu adalah bahwa perlawanan nir-kekerasan lebih efektif dari cara kekerasan,” kata dia.

Searching for Sugarman: Musik, Perubahan, dan Kesederhanaan

Sugarman, you're the answer that makes my questions disappear. Sugarman, coz I’m weary of these double games I hear.” – Sugarman by Sixto Rodriguez

Dinamika perjalanan dunia musik yang dipenuhi oleh berbagai figur dan cerita di dalamnya tentu akan sangat menarik untuk dibicarakan. Musik tidak hanya akan membuat seorang manusia menjadi terkenal tapi juga akan membawa semangat yang bukan tidak mungkin membuat perubahan yang bahkan lebih terkenal dari si musisi. 

Musik memang terbukti bisa mendukung perubahan, tengok saja kisah para kaum hippies yang muncul di tahun 1960an dengan semangat flower power-nya menyebarkan pesan tentang perdamaian dan anti kekerasan melalui lagu-lagunya atau kaum Punk yang muncul sejak tahun 1970an dengan semangat we can do it ourselves yang dengan musiknya menyuarakan kritik terhadap penguasa dan kondisi sosial. Menariknya lagi, perjuangan mereka masih berlanjut hingga kini.

Bicara musik dan perubahan tidak akan bisa dilepaskan dari sosok-sosok fenomenal, sang pencipta musik inspiratif ini. Siapa yang tidak kenal John Lennon dengan lagu Imagine yang membuat dunia tergugah akan pentingnya perdamaian? Siapa yang tidak kenal Michael Jackson dengan lagunya Heal The World yang juga mengingatkan tanggungjawab manusia untuk “menyembuhkan” dunia? Atau bahkan siapa tidak kenal Psy dengan Gangnam Style-nya yang makin mempertenar musik Korea dan bahkan seolah menjadi “lagu wajib” dunia? Tapi mungkin nama Sixto “Sugarman” Rodriguez akan terdengar asing di telinga kita.

Read more...

Para Provokator Damai

“Jika tidak ada agama, dunia akan damai,” kata John Lennon dalam lagu Imagine. John Lennon pesimis dan murung terhadap agama. Tetapi, jika dia masih hidup dan menyaksikan dua film perdamaian, the Imam and the Pastor dan Provokator Damai, maka dia akan optimis menatap agama dan mengubah syair lagu itu. 

Jumat, 15 November 2013, Forum Muda Paramadina bekerjasama dengan Democracy Project dan LSI (Lingkaran Survei Indonesia) Community mengadakan pemutaran dan diskusi dua film perdamaian, the Imam and the Pastor dan Provokator Damai. Meski pada hari itu hujan, sekitar enam puluhan peserta memenuhi ruangan acara yang diadakan di Pisa Cafe Mahakam, Blok M, Jakarta Selatan.

Read more...

SEDAP (Studying English, Documentaries, and Pluralism)

SEDAP merupakan kelas mingguan yang membincang isu pluralisme dan kemanusiaan dalam dokumenter dengan pengantar Bahasa Inggris. Selain memperkaya wawasan pluralisme dan kemanusiaan, program ini ditujukan untuk mengasah kemampuan berkomunikasi berbahasa Inggris.

Pertemuan SEDAP di bulan Oktober 2013 diadakan setiap hari Rabu pukul 14:00 WIB di Ruang Atas Kantor Yayasan Wakaf Paramadina. Difasilitasi oleh Khairil Azhar, kelas SEDAP bulan ini kembali memperkuat dasar-dasar dalam berbahasa Inggris yang akan menunjang kemampuan untuk memahami isu-isu pluralisme. Dengan metode permainan yang menarik, setiap peserta “dipaksa” untuk mengemukakan idenya dalam bahasa Inggris.  Seperti pada pertemuan hari Rabu, 23 Oktober 2013 yang juga dihadiri oleh rekan-rekan kantor, peserta diajak untuk saling menebak kata tertentu yang berkaitan dengan diri masing-masing. Tebak arti kata ini selain menambah pengetahuan akan pribadi masing-masing peserta juga meningkatkan kepercayaan diri dalam mempresentasikan diri dan berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Antusiasme peserta terlihat dengan keterlibatan aktif peserta dalam menjawab pertanyaan.

Dalam kelas SEDAP pada 30 Oktober 2013, peserta diajak untuk saling menilai peserta yang lain dengan menuliskan kata-kata yang dianggap menggambarkan pribadi peserta tersebut. Selain kembali mengenal diri masing-masing peserta, metode ini menambah kosa kata khususnya kata sifat. Peserta kemudian diajak untuk saling bertanya dan bercerita mengenai dirinya terutama menanggapi penilaian peserta yang lain. Berikutnya, Khairil memulai simulasi kecil debat dan membagi peserta dalam dua kelompok, kelompok pro dan kontra. Setelah ditayangkan sedikit cuplikan dari film Great Debaters, tiap kelompok diminta untuk menanggapi cuplikan tersebut. Cakupan topik meluas ke persoalan religiusitas yang juga disinggung dalam cuplikan film tersebut. Diskusi hangat terjadi karena setiap kelompok berusaha untuk mempertahankan atau menyerang  pendapat dari kelompok lain.

Dengan meningkatkan kesulitan atau topik secara bertahap dalam tiap pertemuannya, peserta tidak terlalu kesulitan dalam mengikuti kelas. Kelas SEDAP bulan ini ditanggapi positif oleh peserta karena setiap peserta diajak untuk terlibat aktif dan diberikan kesempatan untuk berbicara sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Hal ini jika dilakukan secara berkelanjutan akan mempermudah upaya dalam memperkaya pengetahuan peserta akan isu pluralisme.

Le Grand Voyage: Perjalan Besar yang Penuh Kesederhanaan

FORUM MUDA PARAMADINA - Ibadah haji sebagai salah satu bagian ibadah umat Islam merupakan hal yang tidak pernah habis untuk dibicarakan. Terlebih di Indonesia yang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam, beberapa bulan ini akan sangat akrab dengan hal ini. Tema menarik ini juga diangkat oleh Forum Muda Paramadina bekerjasama dengan Ciputat School dan LSI Community dalam pemutaran dan diskusi film “Le Grand Voyage”, Jumat, 11 Oktober 2013 yang lalu. Acara bulanan yang diadakan di Pisa Cafe, Mahakam, ini disambut antusiasme ParaMuda dengan dihadiri sekitar 50 peserta. Kali ini acara ini dimulai dengan pemutaran film pukul 16:00 WIB. Setelah diselingi dengan makan malam, dilangsungkan diskusi dengan pembicara Dadi Darmadi, antropolog dari PPIM UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Film “Le Grand Voyage” (2004) mengisahkan perjalanan seorang ayah dengan anak laki-lakinya berkendaraan dengan mobil dari Perancis selatan menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan yang panjang dan melelahkan ini, mereka bertemu orang-orang menarik dan saling belajar untuk mengenal satu sama lain. Masalah perbedaan generasi atau generation gap yang memang merupakan masalah di kalangan masyarakat imigran di Perancis kemudian digambarkan dengan apik oleh sang sutradara, Ismael Ferroukhi. Meskipun demikian, sisi sekular tetap nampak melalui sikap sang ayah yang taat beragama tidak pernah memaksakan anaknya untuk ikut beribadah seperti dirinya.

Read more...

Menjadi Tionghoa di Indonesia Dewasa ini

Film : "Jadi Jagoan Ala Ahok" (2012) karya Chandra Tanzil & Amelia Hapsari dan "Akar" (2013) karya Amelia Hapsari | Narasumber : Amelia Hapsari dan Adrian Jonathan | Tempat dan waktu : Kafe Pisa, 05 Juli 2013 | Penyelenggara : Ciputat School, LSI Community dan Forum Muda Paramadina

Etnis Tionghoa di Indonesia merupakan isu besar. Rudi Hartono, penyumbang medali emas bulutangkis untuk Indonesia, misalnya, harus berurusan dengan pemerintah lantaran masalah KTP. Kemudian, kita tahu pada tahun 1998 ada peristiwa sangat besar di mana warga keturunan Tionghoa menjadi korban banyak sekali. Bagaimana gambaran etnis Tionghoa di Indonesia dewasa ini?

Ciputat School, LSI Community dan Forum Muda Paramadina memutar dua film karya Amelia Hapsari, sarjana lulusan Ohio University dalam bidang komunikasi: Jadi Jagoan Ala Ahok (2012) dan Akar (2013), pada hari Jum’at (05/07/2013) di Kafe Pisa, Jakarta. Diskusi ini dihadiri Amelia dan Adrian Jonathan sebagai narasumber. Diskusi yang dipandu oleh Ihsan Ali-Fauzi ini dihadiri tidak kurang dari 60 orang.

Read more...

"Captain Abu Raed": Kisah Duka dari Yordania

”Jadilah apa yang kamu inginkan, bukan menjadi apa yang diinginkan masyarakat terhadapmu.”

~ Abu Reid~ [Captain Abu Reid (2008)].

"Captain Abu-Raed" sumber: IMDBJujur, setelah melihat film Captain Abu Raed (2007), saya dirundung duka yang mendalam. Dengan segala kesusahannya, ia berusaha memberi kebahagiaan kepada orang lain. Ia juga rela mengorbankan jiwa dan harta demi kebahagiaan orang-orang di lingkungannya. Ia adalah Abu Raed, tokoh utama film tersebut.

Captain Abu Raed pertama kali dirilis di Yordania pada 6 Februari 2007. Film yang disutradarai oleh Amin Matalqa ini merupakan film panjang Yordania pertama dalam 50 tahun terakhir. Setidaknya 28 penghargaan dikantongi film ini. Enam di antaranya, Dubai International Film Festival (2007), Durban International Film Festival(2008), Heartland Film Festival (2008), Newport Beach Film Festival (2008), Seattle International Film Festival (2008), dan Sundance Film Festival (2008).

Abu Raed adalah seorang petugas kebersihan di Queen Alia International Airport, Yordania, satu di antara negara kaya di Timur Tengah. Abu Raed mengasihi anak-anak. Ia senang berkisah kepada anak-anak di lingkungannya untuk menyenangkan mereka. Ia sering menceritakan kisah pesawat yang mengudara di angkasa. Anak-anak pun terpesona dibuatnya. Mereka meyakini Abu Raed adalah seorang kapten pesawat.

Read more...

Berbagi Pengalaman dengan Dr Dave McRae: Dari Sepak Bola hingga Riset Konflik di Indonesia

Saya sangat bersyukur dan beruntung bisa aktif di Forum Muda Paramadina (FMP). Karena saya bisa bertemu dan berdiskusi dengan peneliti baik dari dalam maupun luar negeri. Di FMP saya pernah berdiskusi dengan para Indonesianis seperti Martin van Bruinessen dan R. William Lidlle. Rasa syukur saya semakin bertambah ketika FMP disinggahi oleh peneliti muda asal negeri Kanguru, Australia.

Selasa, 26 Maret 2013, FMP mengundang seorang peneliti di bidang konflik, politik, demokratisasi dan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia, yaitu Dr Dave McRae. Pak Dave, kami memanggilnya, adalah peneliti muda yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Usianya antara tiga hingga empat puluh tahunan dan tertarik dengan Indonesia sejak duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas).

Read more...

Berbagi Pengalaman dengan Dr Dave McRae: Dari Sepak Bola hingga Riset Konflik di Indonesia

Saya sangat bersyukur dan beruntung bisa aktif di Forum Muda Paramadina (FMP). Karena saya bisa bertemu dan berdiskusi dengan peneliti baik dari dalam maupun luar negeri. Di FMP saya pernah berdiskusi dengan para Indonesianis seperti Martin van Bruinessen dan R. William Lidlle. Rasa syukur saya semakin bertambah ketika FMP disinggahi oleh peneliti muda asal negeri Kanguru, Australia.

Baca Selengkapnya ...

ForumMudaParamadina RT @PUSADparamadina: [Buku] Gerakan Kebebasan Sipil: Studi & advokasi kritis atas Perda Syariah | @saiful_mujani http://t.co/QswIQ2HiZc htt…
Wednesday, 16 April 2014 15:00
ForumMudaParamadina “@PUSADparamadina: [Unduh] Sisi Gelap Reformasi di Indonesia: Munculnya Kelompok Masyarakat Madani Intoleran | http://t.co/MpoPhe0kd5
Wednesday, 16 April 2014 14:59
ForumMudaParamadina RT @PUSADparamadina: [Buku] Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia - R. William Liddle http://t.co/77AJ3bjfa4 @fadjroeL http://t.co/iUQRs…
Monday, 14 April 2014 11:18
ForumMudaParamadina RT @PUSADparamadina: [Buku] 'Demokrasi dan Kekecewaan' @Republik_Baru , @rockygerung , Goenawan Mohamad, R. William Liddle dkk http://t.co…
Monday, 14 April 2014 11:18
Monday, 14 April 2014 11:18